Opini

9 Mutiara Hikmah Kalam Abuya KH. Ma’ruf Amin

Oleh: Khairi Fuady

Di momentum tasyakuran yang dihadiri oleh Relawan Lintas Iman dan Barisan Milenial, Abuya KH. Ma’ruf Amin, berpidato cukup panjang. Berikut adalah butir-butir hikmah yang sempat saya catat di kala dengan khidmat menyimak tausiyah dan irsyadat dari beliau, yang secara umum berisi tentang peran ulama, kebangsaan, arus baru ekonomi Indonesia, dan pesan-pesan terhadap generasi milenial:

1. Ulama itu harus FAQIH, MUNAZZHAM, dan MUHARRIQ. Faqih artinya ‘alim secara keilmuan, juga secara amaliyah. Munazzham adalah organisatoris, yang artinya Ulama juga harus bisa menjalankan roda organisasi. Dan yang terpenting adalah Muharriq yang artinya penggerak. Sebab kalau bukan penggerak, maka Ulama akan digerakkan.

2. Pada pundak mereka, Ulama mengemban dua tanggung jawab. Pertama “mas’uuliyyah ummatiyyah”, tanggung jawab keummatan. Dan yang kedua “mas’uuliyyah wathaniyyah”, tanggung jawab kebangsaan. Maka mengurus umat sama halnya dengan mengurus bangsa.

3. Indonesia adalah “Daarul Miitsaaq”, rumah kesepakatan. Orang sering menyebutnya Darul ‘Ahdi. Namun di dalam Al-Qur’an ada istilah “Miitsaaqan Ghaliizaa” yang artinya ikatan yang kuat.

4. Pancasila adalah “Kalimatun Sawaa/Common Platform“. Dan UUD 1945 adalah ‘Ittifaaqaat Akhawiyyah dan Ittifaaqaat Wathaniyyah”, perjanjian dua saudara, dan perjanjian antar anak bangsa. Yang dimaksud perjanjian dua saudara adalah saudara Muslim dengan saudara Non Muslim untuk hidup rukun dan berdampingan.

(NB: Istilah “Daarul Miitsaaq” dan “Ittifaaqaat Akhawiyyah” adalah istilah yang geniune datang dari Abuya KH. Ma’ruf Amin sendiri)

5. Kalau ada yang bilang mengapa ulama bicara politik, maka jawabannya dari dulu memang ulama bicara politik. Dan terlibat dalam proses-proses politik. Politik ulama adalah politik kebangsaan dan politik keummatan. Bukan politik dalam pengertian sempit untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan saja.

6. Konflik ideologi harus kita benahi. Supaya anak bangsa bisa fokus belajar, bekerja, dan berkarya. Kita tidak menutup pintu kritik, tapi kritik yang beretika. Bukan dalam rangka mengganggu dan menggoyang-goyang kepemimpinan yang sah.

7. Arus baru ekonomi Indonesia adalah sebuah paradigma ekonomi yang berarti menguatkan yang lemah, dengan tidak melemahkan yang kuat. Artinya semua sama sama saling menguatkan.

8. Generasi milenial harus berakhlak, berkarakter, dan punya fighting spirit yang kuat. Perolehan medali kita di ASIAN GAMES kemarin adalah bukti bahwa kita bangsa yang kuat dan petarung.

9. Generasi milenial jika dilempar ke laut, jadilah PULAU. Kalau dilempar ke darat, jadilah GUNUNG. Artinya di manapun kalian berada, kalian harus muncul dan menonjol di antara yang lain.

Demikian 9 butir-butir hikmah yang saya rangkum dari tausiyah Abuya KH. Ma’ruf Amin. Semoga bisa menjadi semacam OASE di tengah kerontangnya sahara politik dan situasi kebangsaan kita.

Penulis, Konsolidator Relawan Lintas Iman Kiai Ma’ruf

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close