74 Tahun Luhut Binsar Pandjaitan, Pernah Jadi Aktivis Menentang Orla dan PKI

74 Tahun Luhut Binsar Pandjaitan, Pernah Jadi Aktivis Menentang Orla dan PKI
ANTARA FOTO

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara pada 28 September 1947. Luhut merupakan anak ke-1 dari 5 bersaudara. Ia lahir dari pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu.

Luhut dibesarkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai supir bus. Hal ini dilakukan ayahnya untuk membiayainya bersekolah. Dari perusahaan ayahnya pula ia mendapatkan beasiswa ke Cornell University (Amerika Serikat).

“Saya menjalani kehidupan bersama orang tua saya dengan penuh perjuangan. Almarhum Ayah memulai karir sebagai sopir bus. Rupiah demi rupiah hasil kerja keras beliau kumpulkan demi menjangkau pendidikan lebih tinggi bagi anak-anaknya. Atas ketekunan dan kesungguhannya Ayahanda, saya menjadi Putra Indonesia pertama yang berkesempatan dikirim belajar ke Cornell University (Amerika Serikat) atas biaya perusahaan tempat beliau bekerja setelah tidak lagi menjadi sopir bus,” ujarnya melalui kanal pribadinya, luhutpandjaitan.id dikutip laman Tempo.

Sebelum sampai ke Cornell University, Luhut pernah bersekolah di Bandung. Ketika itu ia bersekolah di SMA Penabur. Berdasarkan maritim.go.id, Di sinilah ia kemudian menjadi salah satu pendiri Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang menghimpun pelajar dan mahasiswa menentang Orde Lama atau Orla dan PKI.

Pada Tahun 1967, Luhut masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) bagian Darat dan 3 tahun kemudian meraih predikat sebagai Lulusan Terbaik pada tahun 1970, sehingga mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa.

Saat ini Luhut menjabat di jabatan pemerintahan. Hal ini dimulainya pada masa pemeintahan Presiden B.J Habibie. Ketika itu ia menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura. Berdasarkan maritim.go.id, Kepiawaian Luhut dalam diplomasi dianggap mampu mengatasi hubungan kedua negara yang sempat terganggu dan kurang selarasnya komunikasi antar pemimpin negara sepeninggal Presiden Soeharto.

Lebih lanjut, Luhut Binsar Pandjaitan juga pernah menduduki jabatan Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Luhut sempat ditawari kembali mengisi posisi tersebut setelah Gus Dur lengser, namun Luhut menolak tawaran Megawati lantaran ia ingin menjaga etikanya kepada Gus Dur.