Otomotif

6 Kesalahan yang Kerap Dilakukan Pengendara Motor Matik

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Motor matik menawarkan kemudahan berkendara. Tinggal angkat standar, starter, lalu puntir gas, maka motor langsung jalan.

Hanya saja dengan segala kemudahan itu membuat pengendaranya sering terlena. Tak sedikit yang mengabaikan anjuran cara berkendara motor matik, sehingga menjadi kesalahan.

Nah kesalahan itu kini menjadi kebiasaan yang sering kita jumpai sehari-hari. Apa saja kesalahan yang dimaksud? mari ulas bersama.

1. Menahan tuas rem sambil jalan

Ya, perilaku pertama kerap tak terhindarkan. Banyak pengendara yang melajukan motornya sambil menarik sedikit tuas remnya. Alhasil lampu rem cepat mati karena menyala terus-menerus, maka jangan heran menemukan motor yang lampu belakangnya tidak hidup.

2. Menahan gas saat berhenti

Masih berkaitan dengan poin satu, ada pula yang menahan gas saat macet-macetan. Caranya dengan buka gas sedikit tapi lajunya ditahan tuas rem. Service Advisor Honda Margo Mulyo Megah, Pasar Minggu, Ahmad Kosasih mengatakan, hal tersebut tanpa disadari membuat kampas kopling motor matik cepat aus.

“Kalau pemakaiannya tepat, penggantian kampas kopling itu sesuai buku servis di 30.000 km. Tapi kalau sering menahan gas paling tidak di 18.000 km harus ganti,” katanya.

Ini karena timbul gesekan besar. Sebab saat gas diputar, kampas kopling ikutan berputar, sedangkan rumah kopling yang terhubung dengan ban tidak berputar. Alhasil timbul gesekan yang besar dan panas yang membuat kopling cepat aus.

3. Narik gas dalam-dalam di awal

Selanjutnya perilaku yang sering kali ditemui di lampu lalu lintas. Seketika lampu hijau, para pengendara motor matik langsung membetot gasnya dalam-dalam. Memang bisa mendapatkan akselerasi maksimal. Tapi bila dilakukan berulang maka membuat v-belt cepat aus, juga boros bensin.

4. Lalai ganti oli gardan

Kemudian berkaitan dengan perawatan, pemilik sering kali abai mengganti oli gardan. Padahal anjurannya setiap 8 ribu km sekali. Ahmad menuturkan, jika dibiarkan tidak diganti, bisa menimbulkan bunyi bising pada area gardan. Selebihnya karena mengandung kotoran, gesekan bisa mengakibatkan komponen penggerak motor ambrol.

5. Jarang bersihkan rumah CVT

Motor matik yang menggunakan penggerak v-belt dan pulley bukannya tanpa perawatan. Jelas Technical Training Analyst PT Astra Honda Motor (AHM) Endro Sutarno minimal bersihkan CVT 8 ribu km sekali.

Cara ini dilakukan agar menghindari gejala gredek atau getar saat akselerasi awal. Terlebih untuk menjaga kualitas kampas kopling tetap optimal, sehingga menghindari bunyi decitan gesekan kotoran pada rumah kopling.

6. Mematikan mesin pakai standar samping

Terakhir ini sebenarnya tidak dilarang. Namun hindari perilaku ini karena menyangkut keamanan motor. Sebab standar samping bukan peranti untuk mematikan mesin.

Bisa-bisa Anda lupa, motor memang sudah mati tapi tidak dengan sistem kelistrikannya. Kemudian berjalan meninggalkan motor dan membiarkan sistem kelistrikan selalu hidup.

Untuk itu sebaiknya selalu ingat matikan mesin motor matik melalui kunci kontak. “Dengan begitu tak cuma mesin, seluruh sistem motor yang berkaitan dengan aki juga ikut mati,” pungkas Endro.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close