5.000 Laporan Transaksi Pendanaan Terorisme Masuk ke PPATK

5.000 Laporan Transaksi Pendanaan Terorisme Masuk ke PPATK
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menerima hampir 5.000 laporan transaksi keuangan mencurigakan menyangkut pendanaan terorisme dan radikalisme dalam 5 tahun terakhir.

Kepala PPATK Dian Ediana Rae mengatakan, seluruhnya telah dianalisis dan menyerahkan 261 informasinya kepada lembaga terkait.

"Nah itu bukan jumlah sedikit ya tentu sangat-sangat mengkhawatirkan, kalau melihat hasil analisis akan lebih kecil hasilnya selama laporan transaksi mencurigakan kan belum benar begitu. PPATK sudah mengeluarkan sekitar 261 informasi terkait pendanaan terorisme atau radikalisme ini ke berbagai lembaga seperti BIN, BNPT, Densus 88 dan juga Kepolisian secara umum,” kata Dian dalam Dialog Kebangsaan Sesi 2 OJK secara virtual, Jakarta, Jumat (24/9/2021).

Transaksi keuangan untuk pendanaan terorisme dinilai tidak menurun saat pandemi. Kelompok teroris justru disebut kian gencar berkampanye.

“Mereka memanfaatkan situasi kelihatannya dalam situasi yang masyarakat sedang depress gitu, kan, kemudian mereka malah kampanye soal ideologi yang menjanjikan tidak jelas,” katanya.

Menurut Dian, fenomena pendanaan terorisme perlu menjadi perhatian serius. Dirinya beralasan, masih terdapat potensi memanfaatkan celah sistem keuangan untuk tujuan-tujuan tidak benar. “Yang bisa dikatakan anti-kebangsaan," katanya.

Dian mengingatkan, pendanaan terorisme yang ada dalam sistem keuangan Indonesia menjadi ancaman serius lantaran tindakan itu bersifat ideologis. Apalagi polanya sangat dinamis sehingga perlu diwaspadai dengan cermat.

"Karena uang pendanaan terorisme itu tidak harus sifatnya besar, memang tidak harus diberikan orang lain atau organisasi, ini bisa merupakan inisiatif sendiri," katanya.

"Kalau saya percaya tentang suatu ideologis, saya bisa mengeluarkan uang saya, bisa mengeluarkan uang korporasi saya,” imbuh Dian.

Dirinya berpendapat, alasan ideologis di balik pendanaan terorisme sangat mungkin terjadi di lingkungan sekitar bahkan di tingkat keluarga. Modusnya pun beragam, seperti penghimpunan dana dari masyarakat melalui media sosial, sumbangan dari anggota, pembiayaan sendiri, dan pendanaan dari korporasi.