45 Polisi Luka Dalam Kericuhan Demo Penganut Teori Konspirasi di Jerman

45 Polisi Luka Dalam Kericuhan Demo Penganut Teori Konspirasi di Jerman

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Rangkaian demonstrasi di akhir pekan ini di Berlin, Jerman, dikabarkan membuat sekitar 45 polisi terluka. Para peserta demo, yang sebagiannya merupakan penganut teori konspirasi, menentang pembatasan sosial terkait Covid-19.

Dikutip dari AFP, sebagian besar peserta aksi unjuk rasa yang mengabaikan protokol pencegahan Virus Corona, misalnya, tak mengenakan masker dan tak menjaga jarak sosial.

Demo bertajuk “hari kebebasan” ini sendiri diikuti oleh sekitar 20 ribu orang, di Gerbang Brandenburg, Berlin. Mereka terdiri dari perpaduan antara kaum kiri dan kanan, serta penganut teori konspirasi.

Demonstran serentak berteriak “Kami adalah gelombang kedua”, merujuk pada kekhawatiran para pakar atas kenaikan kasus baru Covid-19, sembari menuntut “perlawanan” dan menjuluki pandemi sebagai “teori konspirasi terbesar”.

Polisi mulai membubarkan kerumunan pada sore hari, tetapi ratusan pengunjuk rasa tetap berada di Gerbang Brandenburg hingga larut malam. Sebagian melakukan perlawanan. Tiga petugas bahkan dirawat di rumah sakit.

Aparat kemudian menangkap 133 orang. Penangkapan itu terkait kasus perlawanan terhadap petugas, pelanggaran perdamaian, dan penggunaan simbol-simbol inkonstitusional.

Terpisah, dalam demonstrasi anti-fasis di distrik Neukoelln, pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah petugas, melepaskan kembang api, dan merusak dua kendaraan polisi dan kantor partai setempat.

Beberapa petugas terluka saat membubarkan kerumunan, termasuk tiga yang dirawat di rumah sakit setelah terkena pecahan kaca di wajah.

Sejumlah penangkapan demonstran juga dilakukan dalam aksi demo tidak resmi yang lebih kecil. Secara keseluruhan, 1.100 petugas dikerahkan pada siang hari.

Pada Minggu (2/8), demo di sebelah barat Gerbang Brandenburg, Berlin, kembali digelar. Ratusan pengunjuk rasa kali ini mayoritasnya mengenakan masker dan memperhatikan pedoman jaga jarak sosial.

Meskipun Jerman memiliki kasus Corona yang relatif rendah, pihak berwenang prihatin dengan peningkatan kasus dalam beberapa pekan terakhir. Aksi demonstrasi tanpa memperhatikan protokol kesehatan pun dikritik.

“Ya, demonstrasi juga mestinya tetap mungkin dilakukan pada saat [pandemi] Virus Corona, tetapi tidak seperti ini,” kata Menteri Kesehatan Jens Spahn.

“Jarak, aturan kebersihan, dan masker berfungsi untuk melindungi kita semua. Kita mesti menghrmati orang lain,” ucapnya.

Menteri Ekonomi Peter Altmaier pun menyerukan sanksi yang lebih berat bagi pelanggar aturan.

“Mereka yang dengan sengaja membahayakan orang lain harus berharap bahwa ini akan memiliki konsekuensi serius bagi mereka,” kata dia.

Perdana menteri Bavaria Markus Soeder memperingatkan bahwa sekarang “bukan waktunya untuk relaksasi baru atau kecerobohan yang naif”.

Gelombang kedua kasus Covid-19, kata dia, “praktis sudah ada di sini”. “Itu merayap melintasi Jerman.”

Soeder juga menentang gelaran pertandingan sepakbola dengan penonton, ketika para pejabat dari Bundesliga Jerman bersiap untuk berkumpul pekan ini untuk menyetujui pedoman untuk kembalinya para fan ke stadion.

Per Sabtu (1/8), ada 955 kasus baru Covid-19 di Jerman. Menurut Robert Koch Institute (RKI), angka ini menjadi yang terbanyak di negara itu sejak 9 Mei.Berbagai teori konspirasi di beberapa negara menyatakan bahwa Covid-19 tak nyata dan hanya ajang untuk memuluskan penyatuan dunia dalam satu kekuatan, WHO atau industri obat misalnya.

Selain itu, ada pula yang percaya Corona diciptakan negara atau institusi tertentu untuk membuat negara lain takluk dan bergantung pada pinjaman akibat krisis ekonomi saat pandemi.

Jerman sendiri merupakan salah satu negara yang paling awal menerapkan lockdown dengan aturan pembatasan yang ketat. Meski kini sudah diperlonggar, pembatasan tetap diterapkan dalam sejumlah aspek.