Opini

2019-2024: Presiden Husnul Khatimah

PRESIDEN yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia periode 2019-2024 adalah Pemimpin yang punya kesanggupan membawa Indonesia ber-husnul khatimah. Jangan sampai bangsa Indonesia, terutama rakyat kecil di strata bawah, akan semakin berposisi “pelengkap penderita” dan menjadi korban kamuflase-kamuflase elite politik nasional maupun global.

73 tahun merdeka dengan keunggulan kekayaan alam dan ketangguhan rakyatnya, Indonesia belum menunjukkan “kependekaran”nya terhadap Globalisasi. Waktu tinggal sedikit. Perlu lebih bangkit dan mulai sedikit “gila” kepada dunia.

Bulan-bulan rawan April sd Oktober 2019 harus diisi dengan “kearifan bersama” untuk memastikan kesatuan bangsa. Jangan sampai vacuum Presiden. Tahun 2019-2020 harus ada yang memimpin proses membangun kembali “nasionalisme sejati”, untuk “membangun harga diri bangsa” serta meraih kemenangan seluruh rakyat di tahun-tahun berikutnya.

Urgensi kesadaran husnul khatimah sangat didesakkan oleh dinamika pemetaan perkembangan global, percepatan advanced-teknologi yang sedang berlangsung dan mengakibatkan multi-changed, unpredictable developments yang membuahkan wild future — yang tidak bisa direspon hanya dengan “resolusi rendah” paradigma pembangunan seperti yang sekian periode ini menjadi ciri pengelolaan kepemerintahan NKRI.

Ditambah kondisi mental dan budaya bangsa Indonesia yang secara simultan mengalami degradasi dan devaluasi kwalitatif sedemikian rupa — maka siapapun yang menjadi Pemerintah NKRI pasca April nanti — jika tanpa kesadaran husnul khatimah — akan jauh dari prestasi “menorehkan tinta emas sejarah”.

Sungguh, di tahun-tahun depan ini bangsa ini tidak perlu mengalami hal-hal yang kita semua dan para anak cucu tidak siap, dan bahkan menyebutnya saja saya tidak tega. Lima tahun lagi Indonesia harus menjadi “Negara kuat rakyat kuat”, bukan “Rakyat kuat Negara lemah” atau “Rakyat lemah Negara kuat”, apalagi “Negara lemah rakyat lemah”.

Salah satu pijakan husnul khatimah untuk masa depan Indonesia adalah menemukan kembali pengetahuan bahwa bangsa Indonesia memiliki kebesarannya sendiri dibanding bangsa-bangsa lain di dunia. Manusia Indonesia memiliki stereotype geniousitasnya sendiri, multitalented, serta ketangguhan di bidang mentalitas, budaya, daya intelektual serta keluasan spiritual sedemikian rupa.

Pemerintah Indonesia perlu menimbang ulang dan merumuskan kembali etos kepemimpinannya agar bisa menakar keseimbangan pembangunannya, kebijaksanaan arah masa depannya, serta berhenti dari kecengengan dan gimmick pembangunan, serta membuang segala jenis kekerdilan politik, yang selama ini menjadi sumber permusuhan, kebencian dan pertengkaran-pertengkaran yang mubadzir dan hampir merupakan “bunuh diri kebangsaan”.

Bangsa Pancasila yang sudah 73 tahun merdeka semua mengerti apa gerangan konsep husnul khatimah. Utamanya kaum cerdik pandai yang memimpin di garis depan sejarah. Apalagi dengan support Kaum Muslimin yang terbesar jumlahnya di dunia. Ratusan juta buku-buku kepandaian yang berderet di ribuan Toko Buku dan jutaan rak-rak ruang kerja para Ulul Albab, Ulun Nuha, Ulul Abshar – memuat sangat banyak mozaik pandangan tentang husnul khatimah.

Tapi bukankah husnul khatimah itu konsep Islam? Bukankah Indonesia bukan Negara Islam? Tidak harus demikian cara berpikirnya. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Aliran Kepercayaan dan apapun, sebagaimana kekayaan ribuan etnik dan kandungan nilai-nilai budaya dan filosofi dari mozaik sejarah bangsa Indonesia – justru merupakan sumber dan kontributor inspirasi bagi Indonesia masa depan. Islam wajib bermanfaat bagi Indonesia.

Yogyakarta, 28 Maret 2019

KOMENTAR
Tags
Show More
Close