EventOlahraga

200-an Pelari Mancanegara Ikuti Borobudur Marathon 2018

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Pada hari ini, Minggu (18/11/2018), gelaran Borobudur Marathon 2018 dimulai. Borobudur Marathon 2018 menjadi ajang sport tourism paling bergengsi di Tanah Air dan pamornya semakin menarik perhatian banyak pelari dari berbagai negara di dunia, tidak hanya dari dalam negeri.

Lomba lari jarak jauh ini telah menembus 10.000 peserta dari berbagai belahan dunia dan daerah di Tanah Air. Sebanyak 205 pelari datang dari 30 negara di lomba kali ini. Terbanyak datang dari Negeri Jiran Malaysia, disusul Singapura, dan Amerika Serikat.

Para pelari dari Negara Kenya tidak pernah absen di berbagai kejuaraan marathon dunia juga tidak ketinggalan pada Borobudur Maraton 2018 kali ini.

“Pelari tertua (bahkan) datang dari luar negeri, Judith Van Ginkel, 85 tahun, asal Belanda. Kemudian ada William Herman Vollmert, 76 tahun, asal Amerika Serikat,” kata Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, Sabtu (17/11/2018).

Budiman menambahkan, kedua pelari itu turun di nomor 10 Kilometer (10K). Kehadiran banyak pelari dari berbagai negara menjadi sinyal bahwa Borobudur Maraton potensial setara dengan kompetisi lain maraton di tingkat dunia.

Budiman mengungkapkan, inilah sejatinya mimpi besar membawa Borobudur Maraton ke pentas dunia.

“Kita punya mimpi apakah satu marathon di Indonesia ini bisa setara dengan Boston Marathon, Berlin Marathon, Tokyo Marathon, atau World Major Marathon yang lain,” kata Budiman.

Semakin banyak pelari dari berbagai negara yang turun di ajang ini tentu menunjukkan kualitas marathon ini yang lebih baik dari waktu sebelumnya. Kualitas juga tampak dari kepesertaan baik kategori full marathon (42 kilometer), half marathon (21 kilometer) maupun 10 kilometer. Kali ini, peserta lari di nomor full dan half marathon meningkat.

Peserta Borobudur Marathon di 2017 sebanyak 8.754 pelari dengan 72 persen di antaranya mengikuti nomor lomba 10K. Pada marathon ini, menurut Budiman, dari 10.000 lebih peserta, hanya 30 persen saja yang mengikuti 10K, sementara nomor Half Marathon 40 persen dan Full Marathon 30 persen.

Borobudur Marathon kali ini merupakan edisi ketujuh sejak pertama kali digelar pada tahun 2012. Harian Kompas menyelenggarakan lomba lari ini untuk kali yang kedua. Kompas bekerja sama dengan Bank Jateng untuk menyukseskan perhelatan ini.

Dalam kemasan Kompas dan Bank Jateng, kompetisi ini menjadi tidak biasa. Borobudur Marathon dikemas dengan memadukan antara olahraga, pariwisata, maupun budaya. Tidak hanya itu, mereka juga melibatkan masyarakat yang dilalui para peserta lari.

Warga dipastikan akan ikut terlibat dalam memberi dukungan pada para pelari. Setidaknya 19 desa akan dilewati dan sebagian di antaranya adalah desa wisata. Warga dari banyak desa akan memberi dukungan ketika para pelari itu melintas. Perpaduan semua itu digelar dengan mengusung tema Rising Harmony.

Batas Waktu Marathon kali ini juga menerapkan cut-off point (COP) dan cut-off time (COT). Kedua aturan diterapkan demi menjaga kualitas dari adu kuat lari jarak jauh ini. COP merupakan batas waktu minimal yang harus dicapai seorang peserta pada satu titik lokasi tertentu dalam rute lomba. Sedangkan COT merupakan batas waktu terlama peserta lomba sampai tiba di garis finish.

Race Director Borobudur Marathon, Andreas Kansil mengungkapkan, baik batasan waktu COT dan COP lomba ini masih sangat toleran. Untuk COP, para peserta full marathon harus mampu mencapai jarak tempuh 21 km dalam tempo 4 jam, kemudian 35 km selama 6 jam.

Sedangkan untuk half marathon, peserta harus mampu menempuh 15 km harus dalam tempo 3 jam. Batasan ini juga demi menjaga kualitas lomba lari jarak jauh. Dan batas ini bisa lebih pendek lagi di kompetisi selanjutnya.

“Dengan 4 jam dalam 21 km sudah sangat bersahabat,” kata Andreas.

Lomba ini juga menerapkan Blue Line di sepanjang rute marathon. Blue Line membantu para pelari pada jalur tercepat dan paling efisien menuju ke garis finish.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close