Terorisme

2.000 Orang Ditahan karena Radikalisme Sejak Tahun 2000

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kepolisian mencatat ada 2.000 orang narapidana karena radikalisme sejak tahun 2000. Sementara Oktober 2019 ada 59 orang yang ditangkap atas dugaan terorisme.
Hal tersebut diungkapkan Kabagsumda Bagrenmin Densus 88 Antiteror Polri Hoiruddin Hasibuan saat mengisi seminar di Universitas Islam Malang (Unisma).
“Radikalisme, muncul pasca era pemerintahan Soeharto. Kalau dulu, penyebarannya paling lewat gerakan organisasi. Sekarang? cukup posting di sosmed,” ucap Hasibuan, Kamis (7/11/2019).
Dia mengungkapkan, radikalisme memang tak akan bisa berhenti, hanya bisa dicegah dengan pemahaman mindset. Ia menjelaskan bahwa tersangka terorisme yang ditahanĀ 
“Teroris itu ada 2 tipe. Satu itu yang menyebar paham radikal melalui gerakan-gerakan di kampus. Dan yang kedua fokus pada kekuatan militer. Kalau digabung keduanya, sangat berbahaya. Seperti yang dilakukan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) saat ini,” jelasnya.
Rektor Unisma, Prof Dr Maskuri, M.Si mengatakan, pencegahan radikalisme harus mendapat perhatian khusus dari Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Nadiem Makarim. Utamanya mengenai penyebarannya di kampus.
“Saya harap Mendikbud itu enggak cuma ngurusin digitalisasi pendidikan, tapi juga soal pencegahan radikalisme di kampus. Dari riset saya, penyebaran ini juga mulai merambah ke sekolah menengah,” pungkasnya.
KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close