16 Staf Pelabuhan Beirut Ditahan Dalam Investigasi Ledakan Libanon

16 Staf Pelabuhan Beirut Ditahan Dalam Investigasi Ledakan Libanon

JAKARTA, SENAYANPOST.com – 16 petugas pelabuhan Beirut ditahan pemerintah Libanon dalam proses investigasi ledakan dahsyat yang terjadi pada Selasa (4/8) petang lalu.

Dilansir AFP, Jaksa Militer Libanon Fadi Akiki menyebut 18 petugas pelabuhan telah dipanggil dalam proses investigasi. Sebanyak 16 petugas di antaranya ditahan untuk investigasi lebih lanjut.

Mereka yang ditahan di antaranya pegawai bea cukai, petugas pelabuhan, termasuk staf bagian perawatan dan manajernya.

Di saat yang sama, sumber anonim AFP menyebut bank sentral Libanon telah memerintahkan pembekuan aset milik 7 orang pejabat pelabuhan dan bea cukai, termasuk di antaranya milik Direktur Umum Bea Cukai Libanon Badri Daher.

Pemerintah Libanon memberikan tenggat waktu selama empat hari kepada “komite investigasi” untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab atas ledakan yang menewaskan ratusan warga itu.

“Pagi ini kami mengambil keputusan untuk membentuk panitia investigasi, dalam waktu maksimal empat hari (mereka) harus memberikan laporan rinci tentang pertanggungjawaban (ledakan). Akan ada putusan pengadilan,” ungkap Menteri Luar Negeri Libanon, Charbel Wehbe dalam wawancara dengan radio Prancis, radio Europe 1 pada Kamis (6/8/2020).

Hingga saat ini, ledakan diduga karena kecelakaan di gudang yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat. Bahan kimia berdaya ledak itu merupakan barang sitaan yang disimpan sejak 2013.

“(Ledakan) itu adalah kecelakaan.. laporan awal menunjukkan itu karena salah urus produk bahan peledak. Ini adalah pengabaian yang sangat serius yang berlangsung selama enam tahun terakhir,” ucap Wehbe.

Adanya kemungkinan faktor kelalaian itu sebagai penyebab terjadinya ledakan memantik kemarahan publik. Terlebih, saat ini Libanon juga tengah terjerat krisis ekonomi.

Sejauh ini korban tewas akibat ledakan dilaporkan mencapai 137 orang, puluhan orang dilaporkan hilang, dan 5.000 orang terluka. Jumlah korban diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan proses evakuasi yang masih dilakukan. (WS)