14 Orang Ditangkap, Australia Sita Ganja Senilai Rp 418 Miliar

14 Orang Ditangkap, Australia Sita Ganja Senilai Rp 418 Miliar
Ganja senilai Rp 418 miliar disita Kepolisian Australia (foto RMOL)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Penegak hukum Australia melakukan salah satu penyitaan ganja terbesar di negara tersebut saat membongkar operasi skala industri. 14 orang ditangkap oleh pihak berwenang dalam penggerebekan tersebut pada Senin (26/10/2020).

Para petugas menyita ganja senilai lebih dari 40 juta dolar Australia (Rp 418,76 miliar) sebagai hasil dari dua penggerebekan, di beberapa properti di negara bagian New South Wales (NSW) utara pada 22 dan 23 Oktober.

Dalam penggerebekan pertama sebanyak 5.593 tanaman ganja disita bersama dengan 39 pon (17,7 kg) ganja kering.

Sementara pada hari berikutnya, ada 7.760 tanaman ilegal lainnya yang disita dalam operasi terkait.

Polisi juga menangkap 14 pria dalam penggerebekan tersebut, yang semuanya merupakan warga negara Vietnam.

Para tersangka dituntut dengan sejumlah dakwaan yakni membudidayakan tanaman terlarang dalam jumlah besar secara komersial, memasok obat-obatan terlarang, dan terlibat dalam aktivitas kriminal kelompok.

Komandan Unit Pasukan Senjata Api dan Obat-Obatan Detective Superintendent John Watson mengatakan, penyitaan itu merupakan salah satu penyitaan terbesar dalam sejarah Australia. 

"Dari penyitaan ganja yang dilakukan selama ini, kami belum pernah melihat penyitaan sebesar ini sejak 1970-an," ungkap Watson dikutip dari Xinhua.

"Perbedaan terbesarnya adalah bahwa pada 1975, budidaya tanaman di luar ruangan sifatnya musiman, sehingga kelompok kriminal hanya dapat panen sekali dalam setahun, sedangkan rumah budi daya ini menggunakan modifikasi cuaca sehingga memungkinkan panen tanaman baru setiap 12 pekan atau lebih."

Mereka yang ditangkap dalam penggerebekan itu sebagian besar berusia 20-an tahun, dengan yang tertua berusia 44 tahun, serta memegang campuran bridging visa dan visa pelajar.

Seluruh jaminan para tersangka ditolak dan mereka akan menjalani sidang di pengadilan pada 19 Januari 2021, sedangkan status visa mereka dirujuk ke Departemen Dalam Negeri Australia.