11 Kandidat Vaksin Virus Corona Capai Fase 3

11 Kandidat Vaksin Virus Corona Capai Fase 3

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Proses pengembangan vaksin untuk virus corona Covid-19 masih terus berjalan. 

Melansir The Guardian (14/10/2020), sejauh ini ada lebih dari 170 vaksin sedang diteliti, dan sebanyak 11 kandidat telah mencapai tahap 3. 

Berikut daftaranya:  

1. Universitas Oxford / Astra
2. Zeneca BioNTech / Fosun Pharma / Pfizer 
3. Novavax 
4. CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology
5. Moderna / NIAID 
6. Sinovac 
7. Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm 
8. Janssen Pharmaceutical Companies 
9. Gamaleya Research Institute 
10. Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm
11. University of Melbourne/Murdoch Children’s Research Institute 

Banyak orang bertanya-tanya, apakah proses pembuatan vaksin membutuhkan waktu lama? 

Apa saja proses yang harus dilalui hingga nantinya muncul satu vaksin yang disetujui, siap didistribusikan dan digunakan? 

Tahapan uji coba 

Melansir Kompas.com dari ABC, sebuah vaksin akan dinyatakan aman, efektif, dan siap digunakan secara luas ketika sudah terbukti cukup aman dan efektif digunakan manusia untuk menjaga kekebalan dari virus.  

Untuk mengetahui apakah vaksin aman dan efektif, para ahli atau perusahaan pengembang akan melakukan uji coba vaksin kepada hewan dan manusia dalam beberapa tahap.

Biasanya untuk uji pada manusia akan terdiri dari tiga tahap yang pelaksanaannya membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. 

Pada tahap pertama, jumlah orang yang menjadi relawan penerima vaksin masih sedikit, kemudian jumlahnnya bertambah banyak di setiap tahap selanjutnya. 

Setelah diberikan dalam tiga tahap, akan dilakukan evaluasi terhadap hasil uji coba tersebut. 

Adakah laporan tertentu yang datang dari para relawan setelah menerima vaksin, misalnya timbul efek samping, infeksi, keluhan, atau semua berjalan baik-baik saja, dan sebagainya. 
Selain itu, dari jumlah relawan yang ada, tidak semua mendapatkan vaksin yang sesungguhnya, sebagian yang lain mendapatkan plasebo atau obat kosong untuk kontrol penelitian. 

Jika relawan yang mendapatkan plasebo ternyata lebih banyak yang terinfeksi atau mengalami infeksi dengan gejala berat sementara penerima vaksin tidak, itu berarti vaksin sudah bekerja secara efektif. 

Ini mengingat vaksin dirancang memang untuk mengurangi potensi infeksi dan meringankan gejala mereka yang sudah terinfeksi. 

Untuk diketahui, sepanjang uji coba tahap 1-3 berlangsung, prosesnya dievaluasi secara berkala oleh badan khusus yang memiliki kewenangan untuk mengakhiri proses uji coba, apabila hasil yang ditunjukkan terlalu membahayakan. 

Persetujuan 

Jika hasilnya menunjukkan efektivitas dan keamanan penggunaan, data-data yang ada kemudian diserahkan pada badan pemeriksa obat dan makanan untuk ditelaah lebih lanjut dan mendapatkan lisensi atau persetujuan. 

Badan Pemeriksa Obat dan Makanan AS (FDA) menyebut vaksin harus melindungi minimal 50 persen orang yang divaksinasi untuk dipertimbangan dan mendapat persetujuan penuh. 

Di sana, data akan diperiksa Komite Penasihat yang terdiri dari 15 orang ahli yang sebagian besar merupakan spesialis penyakit menular.
 
Setelah itu, rekomendasi akan diteruskan ke Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi, kemudian kembali diteruskan pada Komisaris FDA, Stephen Hahn. 

"Saya berjanji pada Anda bahwa ketika data tersedia, FDA akan meninjaunya, menggunakan proses ilmiah yang ketat dan penuh pertimbangan," kata dia.

Langkah inilah yang sudah dilakukan oleh perusahaan bidang kesehatan di Amerika Serikat, Pfizer. 

"Kami berharap pada akhir Oktober akan memiliki cukup data untuk mengatakan apakah (vaksin) berfungsi atau tidak. Jika cukup, kami dapat mengatakan apakah produk tersebut aman dan efektif dan segera mengirimkannya untuk mendapat persetujuan," kata CEO Pfizer, Albert Bourla. 

Namun, pengiriman data ini bukan berarti vaksin siap didistribusikan dan digunakan oleh masyarakat. 

"Anggapan vaksin akan siap digunakan pada akhir Oktober atau awal November, saya anggap konyol. Itu tidak mungkin terjadi," kata Profesor Bioetika dari New York University, Arthur Caplan. 

Kecuali, jika ada tekanan politik atau tekanan tertentu yang membuat FDA mengeluarkan persetujuan penggunaan darurat, bukan berdasarkan izin yang diberikan secara penuh. 

Misalnya Presiden AS Donald Trump yang mendesak vaksin segera tersedia sebelum Pilpres berlangsung, 3 November 2020.