1.080 Sekolah Menengah Atas Jatim Terapkan Pembelajaran Tatap Muka

1.080 Sekolah Menengah Atas Jatim Terapkan Pembelajaran Tatap Muka
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi tinjau pembelajaran tatap muka

SURABAYA, SENAYANPOST.com - Seribu lebih sekolah menengah atas di Jatim sudah menjalani pembelajaran tatap muka. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Wahid Wahyudi menyebut bahwa sudah ada sebanyak 1.080 sekolah jenjang SMA/SMK/SLB dari total 4.089 lembaga yang dibuka untuk menjalani tahap uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di tengah pandemi COVID-19.

"Jadi dari 4.089 lembaga jenjang SLB, SMA dan SMK di Jatim, hanya 1.080 sekolah saja yang bisa ikut uji coba. Itupun harus memenuhi berbagai persyaratan. Salah satunya melihat perkembangan zona di wilayah," ujar Wahid Wahyudi, Minggu (15/11/2020).

Lebih lanjut Wahid Wahyudi mengemukakan kapasitas SMA yang boleh buka saat ini sebanyak 302 dari 1.517 sekolah. Kemudian SMK 735 dari 2.134 sekolah serta SLB 43 dari 438 sekolah. Pembukaan sekolah pun harus mengantongi izin dari Satgas Penanganan COVID-19 di masing-masing kabupaten/kota.

"Uji coba tatap muka tetap harus mendapat surat rekomendasi dari Satgas COVID-19 kabupaten/kota tersebut," kata Wahid.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan Jatim itu menyatakan penambahan kapasitas PTM merujuk pada berbagai faktor. Selain tidak ada lagi zona merah pada peta risiko COVID-19 Jatim, evaluasi PTM juga menunjukkan tren yang bagus sejak dijalankan 18 Agustus lalu.

"Makanya, kapasitas kami tingkatkan karena kabupaten/kota di Jatim sudah tidak ada zona merah COVID-19, yang ada zona oranye dan kuning," ucap dia.

Kepala SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya Prehantoro menyatakan pihaknya telah siap menggelar uji coba pembelajaran tatap muka.

"Kami telah mempunya beberapa skema yang telah diterapkan, baik protokol kesehatan, teknis tatap muka hingga masalah keamanan. Semua kita telah kita persiapkan, baik alat-alat sistemnya, guru-gurunya, pengamanannya, kita siapkan secara mantab, artinya secara protokol kesehatan siap," ujarnya.

Kepala SMKN 6 Surabaya, Bahrun mengatakan, untuk SMK memang diperlukan PTM. Khususnya bagi kelas XII yang akan lulus.

Bagi yang sudah masuk tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Seperti pemakaian masker dan posisi tempat duduk dengan jarak minimal satu meter.

"Kalau materi bisa secara daring, tetapi praktek sebagai kompetensi siswa SMK ini butuh pembelajaran tatap muka," tuturnya.