Opini

100 Tahun Institut Teknologi Bandung

Mutiara Hikmah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ALHAMDULILLAH. Tahun ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) berusia 100 tahun!”

Demikian gumam bibir saya. Dini hari tadi, ketika saya sedang menyimak postingan beberapa sahabat di facebook tentang almamater mereka, ITB. Yang kini berusia 100 tahun.

Menyimak postingan tersebut, tiba-tiba saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu: ketika itu, ipar saya (adik istri) dan suaminya dari Tangerang berkunjung ke rumah kami. Selepas berbagi sapa dan bercerita tentang banyak hal, mereka kemudian mengemukakan cita-cita mereka: menyekolahkan puteri kedua mereka di Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka tahu, kedua puteri saya lulusan institut teknologi tersebut. Selepas bercerita demikian, ipar saya kemudian bertanya kepada saya, “Mas. Bagaimana caranya supaya anak kami bisa masuk ITB?”

Sebuah pertanyaan singkat, tapi sulit menjawabnya. Apalagi, bagi saya yang seumur-umur tidak pernah memelajari ilmu pasti dan teknologi. Juga, tidak pernah menikmati pendidikan umum secara formal.  Saya, sejak kecil (malah begitu lahir), hidup di lingkungan pesantren dan dididik kedua orang tuanya saya di lembaga keagamaan tradisional tersebut. Lagi pula, kedua puteri saya, khususnya putri sulung saya, sebal ketika tahu saya bercerita tentang pendidikan mereka di institut teknologi tersebut. Mereka lebih suka dikenal sebagai puteri seorang guru ngaji ndeso yang lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren tradisional.

Entah kenapa, tidak lama selepas mendengar pertanyaan ipar saya yang demikian, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Ya, “melayang-layang”  jauh ke Makkah dua tahun sebelum itu.  Kala itu, seusai melaksanakan shalat Zhuhur di Masjid Al-Haram, saya dan sejumlah jamaah umrah menikmati makan siang. Di hotel tempat kami menginap. Beberapa di antara mereka adalah para guru besar Institut Teknologi Bandung dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Seperti biasanya, sambil menikmati hidangan yang disajikan, mereka berbagi cerita tentang banyak hal. Termasuk pendidikan anak-anak mereka. Tiba-tiba, di tengah-tengah pembicaraan, Prof. Dr. Ir. MI, seorang guru besar di Jurusan Teknik Sipil ITB, yang tahu bahwa kedua puteri saya lulusan dari ITB, bertanya kepada saya, “Ustadz Rofi’. Apa resepnya kok kedua puteri Ustadz bisa masuk ITB? Padahal, banyak di antara para sejawat saya, para dosen di ITB, yang putera-puteri mereka gagal masuk ITB?”

“Duh, bagaimana ya menjawabnya,” gumam pelan bibir saya. Beberapa lama saya termenung. Kesulitan dalam memberikan jawaban. Akhirnya, saya pun menjawab dengan nada bingung, “Bapak-bapak, dengan latar pendidikan formal yang Bapak-bapak pernah ditempuh, sejatinya lebih tahu daripada saya tentang hal tersebut. Bapak-bapak tentu sepakat dengan saya, untuk dapat memasuki sebuah perguruan tinggi terbaik tentu diperlukan persiapan jangka panjang. Dengan kata lain, kita harus sudah menyiapkan putera-puteri kita sejak dini. Tanpa persiapan jangka panjang, tentu sulit bagi putera-puetri kita untuk dapat ikut memasuki sebuah perguruan tinggi yang diperebutkan puluhan ribu calon mahasiswa.  Selain itu, Bapak-bapak tentu seiring pendapat dengan saya, sejak dini anak-anak juga perlu diberi pemahaman, keberhasilan meraih cita-cita tidaklah mudah dan memerlukan dukungan mereka. Yaitu kesadaran mereka untuk bersama orang tua meniti langkah-langkah menuju cita-cita yang dituju.”

Usai berucap demikian, sejenak saya menarik napas. Seakan, sebuah beban berat terlepaskan. Dan, tidak lama kemudian, saya kembali berucap, “Di samping itu semua, sejatinya ada hal-hal lain yang kerap kali dilupakan oleh para orang tua dalam mengantarkan putera-puteri mereka. Dalam menempuh pendidikan.”

“Apa itu, Ustadz?” tanya Prof. Dr. EA, seorang guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Penuh semangat.

“Sebagai Muslim,” lanjut saya hati-hati, karena tahu yang di hadapan saya adalah para pakar, “tentu kita perlu mengantarkan putera-puteri kita, dalam menempuh pendidikan dan kehidupan, dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Sebenarnya, saya tidak pernah mendoakan dua puteri saya dengan sebuah doa khusus yang secara eksplisit mengharapkan kiranya Allah SWT. melempangkan jalan mereka dalam memasuki ITB.

Ayah saya, seorang kiai, mengajarkan kepada saya sebuah doa yang indah, “Allahumma ij’alna wa azwajana wa auladana wa banatina wa dzurriyyatina min ahl al-‘ilm wa ahl al-khair wa ahl al-tuqa wa ahl Al-Qur’an, wala taj’alna wa azwajana wa auladana wa banatina wa dzurriyyati min ahl al-syarr wa ahl al-dhair (Ya Allah, Tuhan kami. Jadikan kami, isteri kami, anak-anak laki-laki dan perempuan kami, juga anak keturunan kami, termasuk orang-orang yang Engkau karuniai ilmu pengetahuan, suka berbuat kebaikan, bertakwa, dan ahli tentang Aquran. Dan, jangan jadikanlah kami, isteri kami, anak-anak laki-laki dan perempuan kami, juga anak keturunan kami, termasuk orang-orang yang suka bertindak kejahatan dan kesesatan).”

Jadi, yang senantiasa saya doakan, kiranya Allah SWT. menjadikan kedua puteri saya menjadi orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan, suka berbuat kebaikan, bertakwa, dan ahli tentang Alquran. Masalah mereka akan diterima perguruan tinggi mana, Allah SWT. yang lebih tahu mana yang terbaik. Kami hanya berikhtiar. Berikhtiar tentu saja tidak saja secara lahiriah saja. Dalam hal ini isteri saya, untuk mengantarkan kedua puteri kami dalam menempuh pendidikan mereka, senantiasa berpuasa Senin-Kamis. Sejak kami menikah hingga kini. Demikian selintas jawaban yang dapat saya kemukakan.”

“Ustadz,” ucap Prof. Dr. Ir. MI, “saya sepakat, doa dan ‘laku prihatin’ orang tua sangat penting sekali dalam menopang keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Pengalaman saya, juga para sejawat saya di ITB, membuktikan demikian. Terima kasih, Ustadz, atas ‘taushiyah’nya hari ini.”

Terima kasih, ITB. Yang telah memberikan kesempatan kepada dua puteri kami menimba ilmu dan pengalaman di ITB. Selamat ulang tahun yang ke-100. Semoga, ITB kian berkembang menjadi institut teknologi yang excellent. Juga, menjadi perguruan tinggi teladan selalu. Allahumma amin.

 

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close